Bongkar rahasia loker “jebakan” Di perusahaan future tidak bertanggung jawab

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, ribuan fresh graduate di Indonesia sering kali terjebak dalam lowongan kerja yang terdengar mentereng. Posisi seperti Management Trainee, Business Consultant, hingga Public Relation sering kali menjadi “topeng” bagi perusahaan pialang berjangka (futures) gaya lama untuk merekrut tenaga marketing gratisan.

Fenomena ini bukan hal baru, namun polanya terus berulang dan memakan korban. Bukan hanya pencari kerja yang dirugikan waktu dan tenaganya, namun juga citra industri investasi yang semakin tercoreng.

Paradoks Logika: Menjual Mimpi Kaya, Tapi Karyawan “Sekarat”

Ada sebuah logika yang terputus dalam praktik ini. Calon nasabah (investor) diminta untuk mempercayakan dana ratusan juta rupiah kepada seorang karyawan untuk dikelola dalam pasar perdagangan berjangka. Karyawan tersebut menjanjikan keuntungan besar dan kebebasan finansial.

Namun, ironisnya, karyawan yang menawarkan mimpi tersebut bekerja tanpa jaminan gaji pokok. Penghasilan mereka murni bergantung pada apakah nasabah mau menaruh uang hari itu atau tidak.

“Bayangkan calon nasabah disuruh investasi oleh karyawan yang kerjanya tidak digaji. Jika calon nasabah tidak investasi, karyawan itu tidak makan. Di mana letak kredibilitasnya?” ujar salah satu pengamat karir.

Logika sederhana ini yang sering kali luput. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi konsultan keuangan yang objektif jika kondisi finansial pribadinya sedang dalam tekanan target perusahaan?

Skema Lingkaran Setan: Oknum A, B, dan C

Berdasarkan penelusuran tim Manakerja, banyak perusahaan pialang konvensional menerapkan sistem rekrutmen yang mirip skema Multi-Level Marketing (MLM) namun dalam konteks perekrutan pegawai.

Praktiknya berjalan seperti sebuah lingkaran yang tak terputus:

  1. Oknum A (Leader/Manager), Memiliki target omzet perusahaan yang sangat tinggi. Karena gagal mencapai target sendiri, ia membuka lowongan kerja sebanyak-banyaknya.
  2. Oknum B (Korban Pertama),Masuk kerja dengan harapan gaji tetap, namun ternyata hanya diberi komisi jika dapat nasabah. Karena Oknum B juga kesulitan mencari nasabah, ia ditekan oleh Oknum A untuk merekrut “tim” atau bawahan baru.
  3. Oknum C (Korban Selanjutnya),Direkrut oleh Oknum B melalui lowongan kerja baru. Oknum C ini pada akhirnya juga akan mengalami nasib sama: tidak digaji, stres target, dan akhirnya disuruh merekrut Oknum D.

Sistem ini terus melingkar. Karyawan baru sering kali hanya dimanfaatkan sebagai “aset database”. Perusahaan mengincar daftar kontak keluarga, teman, atau kenalan si karyawan baru untuk diprospek. Begitu database habis dan tidak ada penjualan, karyawan tersebut akan tersingkir dengan sendirinya (turnover tinggi).

Pialang Modern vs Pialang Gaya Lama

Penting bagi pencari kerja untuk membedakan antara perusahaan pialang berjangka yang legal dan profesional, dengan oknum yang menggunakan metode predator ini.

Di era digital, perusahaan investasi dan saham yang bonafide lebih mengedepankan Teknologi.

  • Akses Melalui Aplikasi Mobile/Web.
  • Layanan Nasabah mendaftar dan deposit secara mandiri (self-service).
  • Karyawan Direkrut untuk posisi teknis (IT, Developer) atau layanan pelanggan (Customer Service) yang digaji profesional, bukan disuruh mencari nasabah door-to-door atau telemarketing agresif.

Perusahaan modern tidak membutuhkan ribuan staf marketing yang tidak digaji, karena produk (aplikasi) mereka sudah cukup kuat untuk menarik nasabah secara organik.

Himbauan untuk Pencari Kerja

Redaksi Manakerja.com menghimbau para pencari kerja, khususnya lulusan baru, untuk lebih kritis sebelum menandatangani kontrak kerja atau menghadiri wawancara:

  1. Tanyakan Gaji Pokok
    Jangan malu bertanya di awal, “Apakah ada gaji pokok bulanan tanpa syarat target?” Jika jawabannya berbelit atau “berdasarkan performa/komisi”, pertimbangkan ulang.
  2. Cek Legalitas & Review
    Pastikan perusahaan terdaftar di BAPPEBTI, namun ingat, legalitas tidak menjamin budaya kerjanya sehat. Cari ulasan mantan karyawan di internet.
  3. Waspada Judul Jabatan
    Jika melamar sebagai Admin atau Data Entry tapi saat wawancara dijelaskan tugasnya mencari klien/nasabah, itu adalah tanda bahaya (Red Flag).

Jangan biarkan diri Anda masuk ke dalam lingkaran setan rekrutmen yang hanya menguntungkan pihak atas, sementara Anda bekerja tanpa kepastian.

Artikel ini dipersembahkan oleh Manakerja.com, portal karir yang peduli pada masa depanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *